ALAN ASTRODark Matter alias materi gelap, secara luas dipopulerkan pada tahun 2007 dalam film yang disutradai oleh Chen Schi-zheng. Meskipun popularitas, materi gelap ini belum juga ditemukan oleh para ilmuwan.

Dilansir dalam Nature World News, pada 11th Identification of Dark Matter Conference (IDM2016) yang diselenggarakan di Sheffield – UK, para ilmuwan mengklaim bahwa pencarian materi gelap masih terus berlanjut.

Astronom mengklaim, bahwa materi gelap mengambil massa empat perlima dari universe (Alam Semesta). Namun, pengamatan langsung belum dilakukan, bahkan dengan bantuan detektor materi gelap yang super sensitif.

“Kami bangga, bahwa hal itu bekerja dengan baik. Dan juga kecewa, bahwa kami tidak melihat apa-apa,” ujar Daniel McKinsey, fisikawan dari UC Berkeley.

Dalam 3 tahun ini, salah satu penelitian terkait materi gelap dilakukan dengan Large Underground Xenon (LUX) oleh para ilmuwan.

Large Underground Xenon (LUX) merupakan sebuah detektor materi gelap, ditangguhkan dalam sebuah tangki titanium dengan 272.500 liter air murni. Proyek ini telah menelan biaya sebesar USD 10 juta, terletak 1,6 Km dibawah tambang tanah Dakota Selatan. Oleh karena itu, proyek ini dikenal juga sebagai Sanford Underground Research Facility (SURF).

“LUX merupakan detektor sensitivitas pencarian terbaik dunia, sejak pertama kali dijalankan pada tahun 2013,” kata Rick Gaitskell, fisikawan dari Brown University.

Pencarian materi gelap, masih terus berlangsung. Karena ada tiga tempat, di mana para ilmuwan terus mencari materi tersebut. Bahkan, terdapat tambahan USD 50 juta, untuk versi 70 kali lebih sensitif dari LUX di lokasi Dakota Selatan. Operasi akan dimulai pada tahun 2020.

Iklan